Rabu, 24 April 2013

Mengapa Rasulullah berjalan di atas Ujung Jemari Beliau

Ini adalah sebuah kisah dari kisah perjalanan Nabi nan indah. Dan agar kita mengenal judul kisah tersebut, marilah, wahai para pembaca yang budiman Kita pelajari kisah seorang sahabat yang mulia bernama Tsa’labah bin ‘Abdirrahman .

Tsa’labah bin ‘Abdirrahman selalu melayani Rasulullah dalam segenap keperluan beliau . Pada suatu hari, Rasulullah mengutusnya untuk sebuah kebutuhan beliau. Maka dia pun melewati sebuah pintu milik seorang laki-laki Anshar, lalu dia melihat seorang wanita tengah mandi, dan dia pun berusaha memandangi (mengintip) wanita tersebut. Akan tetapi, tiba-tiba rasa takut mendatanginya.

Dia mengetahui kesalahan besarnya, dan takut jangan-jangan turun satu wahyu kepada Rasulullah dan memberitahukan kepada beliau apa yang telah dia perbuat. Maka dia memutuskan untuk melarikan diri dan tidak kembali kepada Nabi . Lalu dia masuk sebuah gunung di antara Makkah dan Madinah. Dia tinggal di dalamnya kurang lebih selama empat puluh hari.

Lalu turunlah malaikat Jibril kepada beliau , seraya dia berkata, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Rabb-mu menyampaikan salam kepadamu, dan berfirman kepadamu, ‘Sesungguhnya ada seorang laki-laki dari ummat berada di antara galian di gunung berlindung kepada-Ku.”
Maka bersabdalah Nabi kepada Umar bin al-Khaththab dan Salman al-Farisi , ‘Pergilah kalian berdua, dan datangkanlah kepadaku Tsa’labah bin ‘Abdirrahman, dan bukanlah yang dimaksud selainnya.’

Maka keluarlah kedua orang itu dari Madinah, kemudian bertemu dengan seorang penggembala dari para penggembala Madinah, yang disebut dengan Zufafah. Berkatalah Umar kepadanya, ‘Apakah kamu tahu seorang pemuda di antara gunung ini yang disebut dengan nama Tsa’labah?’

Dia menjawab, ‘Barangkali Engkau menginginkan seorang yang lari dari Jahannam?’
Maka Umar berkata, ‘Apa yang kamu ketahui, bahwa dia lari dari Jahannam?’
Dia menjawab, ‘Karena dia, jika datang tengah malam, maka dia keluar kepada kami di antara gunung ini seraya meletakkan tangannya di tengah kepalanya seraya menyeru, ‘Aduhai celaka, andai saja Engkau cabut rohku di antara roh-roh, dan tubuhku di antara jasad-jasad, dan kemudian Engkau tidak menemukanku untuk memutuskan keputusan?’

Maka Umar berkata, ‘Dialah yang kami inginkan….’
Maka penggembala tadi beranjak bersama keduanya. Tatkala Umar melihatnya, dia mendatanginya dan memeluknya.

Dia pun berkata, ‘Wahai Umar, apakah Rasulullah telah tahu dosaku?’
Umar menjawab, ‘Tidak ada ilmu bagiku, kecuali beliau menyebutmu kemarin, lalu mengutus aku dan Salman untuk mencarimu.’
Dia berkata, ‘Wahai Umar, janganlah membawaku masuk kecuali saat beliau di dalam shalat.’

Maka masuklah Umar dan Salman di dalam shalat, dan tatkala Nabi salam, beliau bersabda, ‘Wahai Umar, wahai Salman, apa yang dilakukan oleh Tsa’labah?’
Keduanya menjawab, ‘Ini dia wahai Rasulullah.’
Bersabdalah Rasulullah kepadanya, ‘Ada apa dengan kepergianmu dariku wahai Tsa’labah?’

Dia menjawab, ‘Dosa saya wahai Rasulullah.’
Beliau bersabda, ‘Maukah kamu kutunjukkan satu ayat yang menghapus dosa dan kesalahan?’
Dia menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah.’
Beliau bersabda, ‘Ucapkanlah, Wahai rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari adzab api neraka.’
Dia menjawab, ‘Dosa saya terbesar.’
Rasulullah bersabda, ‘Bahkan firman Allah lebih agung.’

Kemudian beliau memerintahkannya untuk pulang ke rumahnya…
Lalu berlalulah delapan hari, sementara Tsa’labah berada di dalam rumahnya dalam kondisi yang terburuk.
Maka pergilah Salman kepada Nabi , seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, tidakkah Anda ingi melihat keadaan Tsa’labah dan membantunya?
Sungguh keadaan kesehatannya semakin memburuk.’

Maka Nabi bersabda, ‘Beridirilah ayo kita bersama ke sana.’
Maka masuklah Rasulullah kepadanya, lalu meletakkan kepala Tsa’labah di pangkuan beliau, akan tetapi cepat sekali Tsa’labah menyingkirkan kepalanya dari pangkuan Nabi .
Maka bersabdalah Rasulullah , ‘Mengapa Engkau singkirkan kepalamu dari pangkuanku’?

Dia menjawab, ‘Karena dia (kepalaku) penuh dengan dosa-dosa.’
Rasulullah bersabda, ‘Apa yang kau keluhkan?’
Dia menjawab, ‘Seperi rayapan semut di antara tulang, daging dan kulit saya.’
Rasulullah bersabda, ‘Apa yang kau inginkah?’
Dia menjawab, ‘Ampunan Rabb-ku.’

Maka turunlah Jibril seraya berkata, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Rabb-mu menyampaikan salam kepadamu dan berfirman kepadamu, ‘SEANDAINYA HAMBA-KU INI MENEMUIKU DENGAN SEPENUH BUMI KESALAHAN, MAKA PASTILAH AKU TEMUI DIA DENGAN SEPENUH BUMI PULA PENGAMPUNAN.’

Maka Nabi memberitahukan hal itu, lalu berteriaklah dia dengan satu teriakan, kemudian langsung meninggal dunia.
Nabi pun memerintahkan untuk memandikan dan mengkafaninya. Maka tatkala Rasulullah menshalatinya, beliau pun berjalan dengan ujung-ujung jari kaki beliau. Tatkala selesei penguburan, para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami telah melihat Anda berjalan dengan ujung-ujung jari kaki Anda.’

Maka beliau menjawab, ‘Demi Dzat yang telah mengutusku sebagai seorang Nabi, aku tidak kuasa untuk meletakkan tapak kakiku di atas bumi karena banyaknya para malaikat yang turun untuk memakamkannya.

Sesungguhnya saya hadiahkan kisah ini kepada orang-orang berakal syi’ah, jika memang di antara mereka ada orang-orang berakal untuk berfikir bagaimana generasi para sahabat . Dan bagaimana pendidik mereka, Nabi Muhammad yang telah berhasil dalam mendidik, memperbaiki, dan membina mereka di atas perkara yang kontradiksi dengan klaim Syi’ah yang menyebutkan bahwa mereka (para sahabat) adalah orang-orang kafir, dan terlaknat. Wal’iyadzu billah.

Maka sesungguhnya perbuatan buruk apapun terhadap generasi teragung yang dikenal oleh sejarah, itu adalah perbuatan buruk dan tuduhan keji kepada Nabi , seandainya orang-orang berakal mengetahuinya.

Lihatlah, bagaimana karena sebuah dosa yang kadang kita melihatnya sebagai sesuatu yang ringan sederhana di zaman kita ini, seorang sahabat tidak tidur di malam harinya, jika dia terjerumus ke dalam perkara seperti itu.

Maka demi Allah, bukankah ini termasuk bukti-bukti akan kesuksesan pengajar, pendidik, dan pembina mereka?! Apakah ini adalah generasi yang berhak untuk dicaci dan dihinakan, ataukah generasi yang berhak untuk dihormati dan dimuliakan?! Akan tetapi, tidaklah kita katakan kecuali cukuplah para sahabat bahwa Allah Ta'ala telah mengetahui kedudukan kejujuran, keikhlasan, dan kecintaan mereka terhadap agama dan nabinya .

Maka turunlah tentang mereka sebuah ayat yang dibacakan hingga hari kiamat:
رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“ALLAH RIDHA KEPADA MEREKA DAN MEREKAPUN RIDHA KEPADA ALLAH.”

Maka mudah-mudahan Allah meridhai sahabat mulia; Tsa’labah bin ‘Abdirrahma, dan mudah-mudahan Allah mempertemukan kita denganya di Firdaus yang tertinggi dari sorga bersama dengan para nabi, orang-orang shadiq, dan merekalah sebaik-baik teman di akhirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar